Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label story abut you. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story abut you. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 April 2017

Pilihan


Bukan dia yang tak kujadikan sebuah pilihan, namun lebih kepada aku yang tak yakin akan menjadi sebuah pilihan untuknya.
Hingga pilihanku jatuh padamu. Namun akankah kau menjadikanku sebuah pilihan juga? Seperti dia, banyak sekali yang memperjuangkanmu, barangkali aku hanyalah satu dari sekian ribu yang ada. Mempersembahkan yang terbaik itulah yang sekiranya dapat ku usahakan. Meski kutahu terbaik menurutku barangkali tidak sama dengan arti terbaik menurutmu. Akankah takdir baik memilihku dari ribuan terbaik sehingga aku bisa menggapaimu?
Aku tidak tahu, yang jelas kan kupersiapkan keikhlasanku jika nanti kau patahkan perjuanganku.

Selasa, 03 Januari 2017

Turunan Alkana dalam (R)asa




Turunan Alkana dalam (R)asa
Oleh: Pety Rahmalina


Apa aku harus menjadi senyawa Alkanol (R—OH), seperti etanol (CH3-CH2-OH)  yang bisa dipakai untuk membersihkan luka dan mensterilkannya? Agar aku mampu membersihkan lara yang mendera jiwa sehingga takkan teinfeksi dan membuatnya semakin parah lagi. Jangan lupakan tentang luka-luka hati yang mungkin saja kian hitam—melebam karena pernah terbang terlalu tinggi lalu terhempas begitu saja, juga debu-debu kecil atau zat mikromolekul yang semakin membuatnya keruh, jenuh dan rentan terinfeksi.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Alkanol yang dapat digunakan untuk membersihkan luka? Entah lukamu, lukanya, atau justru lukaku sendiri.

***
Apa aku harus menjadi senyawa Alkoksialkana (R—O—R’), seperti dietil eter/etoksi etana (C2H5-O-C2H5) sebagai salah satu zat anestesi? Agar semua rasa nyeri yang menguar di sekujur hati dengan luka ini tak dapat terasa lagi pedihnya. Jadi tak perlulah diri ini menjerit serta menangis pilu karena lara tak lagi terasa. Tak perlu juga ada teriakan-teriakan kesakitan dari setiap hati dan jiwa yang terluka.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Alkosialkana yang dapat meredakan atau bahkan menghilangkan rasa sakit, nyeri karena luka dan lara? Entah untuk nyeri yang kau rasa, kurasa, ataupun yang ia rasakan.

***
Apa aku harus  menjadi senyawa Aldehida (Alkanal), seperti formaldehida yang digunakan sebagai bahan dasar perekat (lem)? Agar mampu menyatukan setiap retakan, serpihan, serta potongan hati yang tak satu agar menyatu lagi atau setidaknya merekatkan setiap sisinya yang hancur—agar mampu menjadi sepotong hati yang baru walau sudah tak seperti dulu lagi. Jangan lupakan setiap benang yang terputus karena keegoisan, pintalan syal silaturahmi yang tak lagi terpintal karenanya. Apa tak bisa disambungkan, walau bukan dengan tujuan dan perasaan yang sama? Setidaknya hanya untuk menjaga ikatan baik antar sesama manusia.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Aldehida yang dapat merekatkan setiap retakan yang ada? Entah retakan milikmu, miliknya, atau milikku.

***
Apa aku harus menjadi senyawa Keton (Alkanon), seperti aseton yang dapat digunakan sebagai pelarut. Sehingga aku dapat melarutkan setiap kebencian yang mungkin terselip dalam setiap pertemuan pada untaian doa yang mengangkasa. Setidaknya jika tak bisa terlarut sepenuhnya, rasa itu akan terkikis sedikit demi sedikit hingga tak sebesar rasa benci yang terasa sebelumnya.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Keton yang dapat melarutkan—setiap kerak-kerak kebencian yang entah kau rasa, dia rasa, ataupun kurasa.

***
Apa aku harus menjadi senyawa Asam Alkanat, seperti asam asetat sebagai zat warna. Sehingga aku dapat memberikan sedikit warna di antara garis abu-abu yang ada. Membuatnya tak terlihat begitu kelabu dalam hal yang terlampau abstrak.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Asam Alkanat yang dapat memberikan sedikit warna dalam garis abu-abu yang entah milikmu, miliknya atau justru milikku sendiri?

***
Apa aku harus menjadi senyawa Ester (Akil Alkanat) seperti amil asetat, amil valerat, amil butirat, dan propil asetat yang dapat memberikan aroma sebagai penambah rasa agar tak hambar. Sehingga aku dapat memberikan sedikit rasa yang kurasakan agar semuanya tak terasa hambar, karena aku terlalu perasa dan tidak denganmu.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Ester yang dapat menambahmu, dia ataupun aku menjadi lebih perasa lagi.

***
Apa aku harus menjadi senyawa Haloalkana, seperti CFC yang dapat menjadi pendingin ruangan. Sehingga kehadiranku dapat memberikan kesejukan.
Katakan! Apa aku harus menjadi senyawa Haloalkana yang dapat memberikan kesejukan untukmu, untuknya atau untukku sendiri. Ah tapi jangan kau pikir aku akan seperti CFC yang akan merusak lapisan ozon. Tentu saja aku tak ingin memiliki sifatnya yang merusak itu. Aku hanya ingin mendapatkan kesejukannya saja :D

***
Jadi, bagaimana? Aku harus seperti apa? Nyatanya jika aku terus berkata dan berteriak kepadamu tentang khayalanku yang mengaitkan turunan Alkana di dalamnya. Mungkin kau takkan pernah berkata ataupun menanggapi sesekata pun. Kau masihlah sosok imajiner yang kubangun dalam nyata. Entah kau ada pada jarak sejauh apa? Apakah jarak itu seperti bumi dan bulan atau hanya beberapa langkah saja untuk sampai padamu yang entah siapa. Nyatanya tak ada sesiapa detik ini—dalam ruang kecil yang kau sebut sepotong hati, aku masih terpekur sendiri. Jika kau merasa tulisanku sedikit tertuju padamu—entah kapanpun itu. Mungkin ini adalah sedikit kegilaan yang telah kubuat. Saat rasa dalam hatimu menghilangkan akalmu, sesuatu yang berbeda akan mengguncang dan meruntuhkan logikamu.

Kamis, 29 Desember 2016

Kekekalan Energi


Kekekalan Energi
Oleh: Pety Rahmalina
.
Karena kamu tuh seperti energi. Menurut hukum kekekalan energi, energi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan. Energi hanya bisa diubah menjadi bentuk energi yang lainnya.
.
Begitu juga kamu. Kamu adalah energi yang tak kuciptakan dan tak bisa kumusnahkan. Kamu itu sesuatu yang terubah oleh waktu menjadi sebuah unsur atau senyawa sejenis kenangan. Anggap saja kamu dulu seperti unsur Oksigen yang berikatan dengan Hidrogen dalam Air (H2O) yang merupakan molekul berharga dalam kehidupanku. Tapi mungkin kemudian kamu menjadi unsur Oksigen yang berikatan dengan Karbon membentuk senyawa (CO2) atau bahkan CO dan justru menjadi racun dalam diriku bila tidak kunjung melepasmu.
.
Aku tak bisa memaksa untuk tetap mempertahankanmu, tapi akupun tak bisa memusnahkanmu dari segala hal. Karena sudah kukatakan bahwa kau adalah salah satu bentuk energi milikNya. Jadi aku hanya akan melepaskanmu dan bagian dari dirimu akan menjadi sebuah kenangan--tidak musnah. Tapi menjadi sesuatu yang berbeda saja.
.
Hei, kau jangan menyesal pada sang waktu yang telah mengubahmu menjadi bentuk energi yang lain. Bisakah kau mengerti, jika kau tak bisa menjadi energi untukku lagi. Bukankah kau masih bisa menjadi energi untuk sesuatu ataupun seseorang yang lain? Mungkin saja kau akan lebih bisa melengkapinya dan begitu pun sebaliknya. Jadi, lepaskanlah segala jenis energi ikatanmu untuk tetap bertahan. Ubahlah saja pada energi pelepasan untukku--menjadi energi ikatan untuknya. Kau tak perlu menghabiskan energimu dengan reaksi pembakaran yang akan menghanguskan dan mengubah dirimu menjadi sesuatu yang berlainan lagi. Tak perlulah O2 membakar-- dan menyebar benci-benci yang lainnya, kepadaku, kepadamu, kepada waktu, ataupun kepada yang lainnya.
.
#Writing #Materi #Kimia #Fisika #AnakIPA #BanyolanIPA #PetyRahmalina #sman1panggang #FisikaAsyik #KimiaAsyik #Quotespelajar #Sains #IPA
#Yogyakarta #29Desember2016

Antara Ja(t)uh, Rindu dan Uranium




Antara Ja(t)uh, Rindu dan Uranium
Oleh: Pety Rahmalina

Sampai saat aku melihat mu lagi, aku ingin mengucapkan beberapa kata dengan lancar di hadapanmu. Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya. Kau tahu? Bahkan diri ini saja beku di hadap mu, juga aksara dan kekata lenyap dalam benakku. Kau tahu? Saat diri ja(t)uh pada jarak yang terbentang, rindu itu selalu kutikam. Tak mudah menikam rasa rindu yang selalu hadir menemani ku. Eh, jika suatu saat kita bertemu dan aku berkata bahwa pertemuan akan membunuh rasa rindu. Maka aku akan menyalahkan mu, karena setelah pertemuan itu rindu beramitosis menjadi beberapa kali lipat setiap detiknya. Kau tahu? Rasa rindu itu seperti Uranium dengan reaksi fisi yang terus melepaskan neutron yang tak terhingga. Begitu pun rindu yang berkembang menjadi luapan rasa yang memenuhi ruang dalam hati pada setiap waktunya. 
Hai kamu, kadang aku takut tidak bisa mengendalikan rindu sehingga ia akan meledak dan melukai. Ia memancarkan radiasi rasa yang tak bisa ku kendalikan. Mungkin aku harus membuat reaktor dalam hatiku ya? Seperti Uranium dalam reaktor nuklir yang dikendalikan. Ehm, kurasa aku harus bisa menata setiap rindu. Jangan ragu, aku memang bukan pengendali udara, tanah, air atau pun api. Tapi aku harus bisa mengendalikan hati atas semua rindu yang tertuju padamu. Dalam rangkaian doa yang mengangkasa semoga setiap lipatan doa sampai padamu. Karena hanya doa yang akan sampai ke mana dan pada siapa saja. Entah dalam berapa waktu. Karena nyatanya aku tak tahu ke mana tulisan ini tertuju? Pada kamu yang aku pun tak tahu. 

Kamis, 22 Desember 2016

Tentangmu (Rival/Enemy) All About You



Tentangmu (Rival/Enemy)
Oleh: Pety Rahmalina
.
Terimakasih pernah menjadi sebuah bagian dalam kisah yang hadir dalam hidupku. Kehadiranmu memang tak sepenuhnya menyenangkan namun tak juga penuh kebencian dan kesedihan. Bukankah kamu yang pernah menyajikan segala macam rasa dalam batas garis abu-abu ini? Membawa segalanya dalam hal yang tampak abstrak dan antara ada ataupun tiada. Aku berterimakasih untuk itu. Atas waktu yang dihabiskan untuk bertengkar, berdebat, bekerjasama, dan juga atas sejumput rasa lain yang tanpa disadari akan keberadaannya. Walau kisah itu tak berakhir dengan seindah lipatan harapan yang tergantung dalam ranting asa, tapi bukankah ia tak berakhir dengan tragis juga? Ya kisah ini memang rumit pada mula dan akhirnya. Semua yang ada di dalamnya harus terkenang dan tersembunyi dalam garis abu-abu yang ada. Mungkin takkan ada jalan tuk merangkai setiap asa kembali bersamamu, karena aku dan kamu bahkan tak bisa saling melengkapi walau kita berbeda.